DISIPLIN
Kita semua diberi hadiah paling indah dalam hidup, yaitu kebebasan. Saya menganggap hadiah ini sama dengan sebuah kemudi. Kita bebas menentukan jalan hidup yang ingin kita jalani, kita bebas memilih dan mengambil jalan yang berbeda, kita bebas untuk bertindak dan tidak berperan pasif dalam perjalanan hidup kita.
Namun, bagi sebagian besar diantara kita, kita seolah-olah tertidur di depan kemudi dengan alat kemudi otomatis (membiarkan peta kita, yang berisi tindakan yang biasa kita lakukan, memandu kita ke tempat yang sama meskipun kita tidak ingin lagi pergi ke sana. Itu berarti, kita tidak menguasai kemudi lagi) kita tetap mengerjakan pekerjaan lama yang kita benci atau bergabung dengan sebuah pusat kebugaran dengan tujuan menurunkan berat badan, tetapi tidak pernah berhasil. Namun, untuk mewujudkan semua mimpi, Anda harus menguasai kemudi Anda, dan memegangnya erat dengan kedua tangan Anda, dan mengemudikan hidup Anda ke arah yang Anda pilih.
Disiplin yang membeakan tempat dimana sekarang kita berada dengan tempat yang kita inginkan
Membutuhkan disiplin atau "kemauan keras" untuk menolak perilaku yang biasa kita tunjukkan. Dalam olahraga, disiplinlah yang membedakan antara atlet amatir dengan profesional. Dalam kehidupan, disiplinlah yang membedakan tempat dimana sekarang kita berada dengan tempat yang kita inginkan.
Sebagian besar orang menerjemahkan disiplin sebagai "kendali" (diperintahkan apa yang harus dilakukan oleh pihak yang berkuasa, "hukuman" ) dimasukkan dalam penilaian kinerja ditempat kerja, atau "berhenti" menolak segelas anggur saat makan malam. Namun, disiplin tidak selalu dipaksakan kepada kita. Terkadang disiplin merupakan alat yang dapat digunakan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Sebenarnya, kita semua menunjukkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyikat gigi, mandi, dan pergi bersekolah atau bekerja. Kemudian kita pulang. duduk santai di dpan TV, dan berusaha mengikuti acara televisi kesukaan kita dengan penuh disiplin.
Kita semua jelas bersikap disiplin sampai ke tingkat tertentu, tetapi sebagian besar diantara kita harus mengembangkan sikap tersebut untuk mencapai tujuan kita yang lebih penting. Ini sama dengan berusaha menguatkan otot. Anda harus menggunakan otot Anda, atau otot tersebut akan menjadi lemah. Jika sering digunakan, maka otot tersebut akan menjadi semakin kuat. Jika otot tersebut tidak digunakan, maka akan sama tidak bergunanya seperti otot lemah yang telah dibalut gips selama satu bulan.
Hal tersebut mungkin kedengarannya jelas. Namun, apa yang tidak dipahami oleh sebagian besar orang adalah, ketika kita menetapkan tujuan, kita cenderung bergegas menjalankan cara hidup kita yang baru dengan penuh semangat. Rasanya seperti mencoba mengangkat beban paling berat di pusat kebugaran ketika pertama kali Anda datang. Otot yang tidak terlatih tidak dapat mengangkat beban. Demikian juga disiplin yang tak terlatih akan hilang di bawah beban komitmen kita. Jadi, misalnya jika Anda ingin mengonsumsi makanan yang lebih sehat, mulailah dengan melakukan berbagai perubahan kecil dalam makanan Anda, bukannya langsung tidak mengonsumsi garam, gula, dan kafein.
Sama dengan melatih otot, apa yang harus kita lakukan adalah memulainya dengan bijaksana, kerjakanlah satu tugas dalam satu waktu, hilangkanlah rasa tidak nyaman yang awalnya muncul, perlahan tingkatkanlah tantangan Anda, dan pujilah kemajuan perlahan kita. Dengan cara itulah Anda menanamkan kedisiplinan
by Akhmad Zaelani
source from "Pure Wisdom" Dean Cunningham